Memulai hidup baru di Malaysia, Muslim Rohingya merayakan Idul Fitri
nyata pertama mereka di Malaysia, setelah melarikan diri dari
penganiayaan di Burma dan menghindari siksaan akibat perdagangan
manusia.
“Saya sangat senang bisa berpuasa dan merayakan Idul Fitri di
Malaysia tanpa rasa takut. Di Myanmar (Burma), Muslim yang berkumpul
untuk sholat Idul Fitri akan ditangkap oleh tentara,” Nurul Amin Nobi
Hussein mengatakan kepada Benama News.
Ditahan selama dua bulan di ‘kamp kematian’ di Wang Kelian, Hussein
mengatakan etnis Rohingya di Burma dilarang merayakan Idul Fitri dengan
anggota keluarga mereka di desa.
“Saya menghubungi orang tua saya di Maungdaw, Myanmar. Mereka tidak
merayakan Idul Fitri, jadi seperti hari-hari lainnya, hanya tinggal di
rumah,” Hussein, 25 tahun, mengatakan.
“Mereka akan dipenjara jika tetap melakukannya. Tentara tidak mengizinkan kita untuk bergerak bebas.”
Menurut Hussein, Muslim Rohingya harus mencari izin dari tentara jika
mereka ingin mengunjungi keluarga mereka di desa-desa lain selama Idul
Fitri atau hari-hari biasa.
Dia diselamatkan ketika sindikat menyelundupkan dia ke Wang Kelian dan Padang Besar, Thailand selatan.
Nobi Hussein melihat kedatangannya ke Malaysia menumbuhkan bantuan dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Tahun ini, dia merasakan kegembiraan yang luar biasa karena dapat
berbagi kebahagiaan bersama istrinya Nur Khaidha Abdul Shukur, 24 tahun,
dan dua anak mereka, Mansur Ali yang berusia empat tahun dan Mohamad
Yasir yang berusia lima bulan, di rumah mereka di Simpang Kuala, Alor
Setar.
Istrinya juga diselamatkan setelah 10 hari disekap di sebuah kamp
transit di Padang Besar, Thailand selatan. Dia bersaksi tentang
pemerkosaan terhadap perempuan Rohingya oleh penjaga di kamp.
Tidak mau mengingat keadaan sulit di masa lalu, Nurul Amin memimpikan masa depan yang lebih cerah.
“Tahun ini lebih spesial karena saya bisa membeli baju baru untuk
anak-anak saya, memasak makanan dan membuat kue tradisional etnis
Rohingya untuk merayakan Idul Fitri. Kami juga bebas mengunjungi
teman-teman di mana pun mereka tinggal,” katanya.
Jahedul Islam, Muslim Rohingya yang lain, sangat antusias merayakan Idul Fitri di lingkungan yang damai.
“Saya sangat senang bisa merayakan Idul Fitri di Malaysia tapi saya
juga merasa sangat sedih karena keluarga dan kerabat saya harus hidup di
bawah penindasan tentara Myanmar,” kata Islam.
“Saya berduka dan merasa bersalah saat memikirkan teman-teman yang
menderita dan mati di tangan penjaga kekerasan di kamp. Nurul (Amin) dan
saya adalah salah satu orang yang beruntung yang berhasil melarikan
diri,” katanya.
Ditetapkan oleh PBB sebagai salah satu minoritas yang paling
teraniaya di dunia, Muslim Rohingya menghadapi bermacam diskriminasi di
tanah air mereka.
Hak-hak kewarganegaraan mereka ditolak sejak berlakunya amandemen
undang-undang kewarganegaraan pada tahun 1982 dan mereka diperlakukan
sebagai imigran ilegal di rumah mereka sendiri.
Pemerintah Burma, serta mayoritas Budha, menolak untuk mengakui istilah “Rohingya”, melainkan merujuk mereka sebagai “Bengali”.
Kelompok-kelompok HAM mengatakan pasukan pemerintah Burma membunuh,
memperkosa dan menangkap Rohingya menyusul kekerasan sektarian tahun
lalu.
Memilih melarikan diri dari penganiayaan yang dilakukan oleh negara,
diperkirakan 120.000 pengungsi Burma melarikan diri untuk hidup di 10
kamp di sepanjang perbatasan Thailand-Myanmar, menurut The Border Consortium, yang mengkoordinasikan kegiatan LSM di kamp-kamp.
(muslimdaily/internasnews)
Tuesday, July 21, 2015
Subscribe to:
Post Comments (Atom)






