Singapura dan Indonesia pada hari Selasa sepakat untuk meningkatkan
kerjasama melawan Negara Islam (IS) di tengah kekhawatiran para
gerilyawan yang kembali dari Timur Tengah dan dapat menyusun serangan di
Asia Tenggara. Demikian dilansir Brunei Times, pada Rabu (29/07/2015).
“Kami berdua khawatir tentang ISIS dan kami berdua memiliki warga
negara dari negara kami yang terlibat dalam kegiatan teroris termasuk di
Timur Tengah,” kata Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong setelah
pembicaraan dengan Presiden Indonesia Joko Widodo.
Tak lama setelah pertemuan tersebut, Singapura mengungkapkan bahwa
seorang Muslim lokal berusia 51 tahun, Mustafa Sultan Ali, dideportasi
oleh Turki pada bulan Juni setelah mencoba untuk bergabung IS—juga
dikenal sebagai ISIS—dengan menyeberang ke Suriah.
Joko Widodo mengatakan bahwa kedua pemimpin sepakat bahwa kami akan
berbagi informasi dan hal-hal lain yang terkait dengan terorisme dan
ISIS, karena kita tahu bahwa ini adalah ancaman bagi hampir di semua
negara.
Indonesia khawatir, 500 warganya telah terpikat ke Timur Tengah oleh IS.
Singapura yang didominasi etnis China, dengan 13,3 persen dari populasi dari minoritas Muslim Melayu. (ry/islampos/internasnews)
Thursday, July 30, 2015
Subscribe to:
Post Comments (Atom)






