Meledaknya Tragedi Tolikara tidak lepas dari kepentingan politis
berbungkus sentimen agama dan ekonomi. Demikian dikatakan Direktur The
Communit Ideologycal Islamic Analyst, Harits Abu Ulya.
Menurut pengamat intelijen ini, tragedi Tolikara adalah produk
simbiosis dari jejaring Operasi Papua Merdeka (OPM) yang berkolaborasi
dengan pihak asing.
“Mereka berkolaborasi melalui gereja dan misionarisnya ditambah
bobroknya pemda setempat yang terindikasi kasus korupsi,” ujar Harits
dalam keterangan kepada Islampos, Senin (20/7/2015).
Selain itu, kata Harits, tragedi Tolikara tida bisa lepas dari
lemahnya penanganan aparat dan intelijen untuk mengambil tindakan
preventif atas pontensi gangguan keamanan di Tolikara.
“Pemerintah gagap untuk bertindak tegas mengindikasikan kompleksitas
kepentingan politik berbagai pihak terhadap Papua,” tegas Harits.
Sayangnya, masih kata Harits, sikap pemerintah melalui instansi
terkait justru membela unsur-unsur Kristen yang secara nyata melakukan
tindak kriminal secara biadab.
“Sangat aneh dan blunder jika pemerintah tidak cekatan dan tegas,
padahal masyarakat muslim saat ini mayoritas melihat fakta permukaan
bahwa telah terjadi intoleransi sangat biadab dan perlu tindakan tegas.”
Dikatakan Harits, jika pemerintah tidak tegas justru menyisakan tanda
tanya besar; apakah sekedar ingin membela tirani minoritas di Indonesia
atau karena tidak ingin ada tekanan asing kpd pemerintah saat ini.
“Umat Islam menunggu solusi kongkritnya!” imbuhnya.
(rn/Islampos/internasnews)
Tuesday, July 21, 2015
Subscribe to:
Post Comments (Atom)






