Pemimpin gerakan Houthi Yaman dikabarkan menolak gencatan senjata
yang direncanakan oleh Koalisi Teluk. Pasalnya, gencatan senjata
tersebut hanya akan menguntungkan ISIS dan al Qaeda, demikian seperti
ditulis dalam akun Twitter kelompok Houthi.
“Pertempuran masih berlangsung dan perang belum berakhir,” Pemimpin Houthi Abdel-Malek al-Houthi menegaskan.
Pada Sabtu, komandan koalisi telah menyerukan lima hari gencatan
senjata kemanusiaan yang dimulai pada Ahad. Gencatan senjata itu atas
permintaan Presiden Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi, yang masih berbasis
di ibukota Saudi Riyadh.
Komandan koalisi juga berjanji akan sigap melindungi rakyat Yaman dari setiap tindakan ancaman oleh milisi Houthi.
Gencatan senjata ini kemungkinan gagal karena lima orang tewas pada
Sabtu setelah Houthi menyerang kota barat daya Taiz dengan tembakan
artileri, menurut saksi dan sumber medis setempat.
Serangan artileri dikonfirmasi oleh saluran televisi Almasirah Houthi
yang dikelola, yang melaporkan Minggu pagi bahwa milisi telah melanda
beberapa kabupaten di Taiz.
Tersinggung Yaman tetap dalam kekacauan sejak September lalu, ketika
menyerbu ibukota Sanaa Houthi, dari mana mereka telah sejak memperluas
pengaruh mereka ke selatan ke bagian lain dari negara.
Pada bulan Maret, Arab Saudi dan sekutu Arabnya mengumumkan
peluncuran sebuah koalisi udara internasional, yang selama empat bulan
terakhir terus pon posisi Houthi di Yaman yang dilanda perang.
(islampos/internasnews)
Sunday, July 26, 2015
Subscribe to:
Post Comments (Atom)






