Mantan Ketua Asosiasi Bank Syariah Seluruh Indonesia periode
2012-2015 Yuslam Fauzi, mengakui perbankan syariah masih menghadapi
kendala kurangnya sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni terutama dalam
memahami nilai-nilai ekonomi syariah.
“Saya masih konsisten pada pendapat lama bahwa perbankan syariah
kekurangan SDM, dalam pengertian SDM yang memahami syariah dalam konsep
yang lebih bernilai, bukan syariah yang hitam putih, halal haram,” ujar
Yuslam, beberapa waktu lalu.
Sementara, menurutnya, pelajaran mengenai keuangan syariah saat ini,
baik di perguruan tinggi maupun di kursus, pelatihan internal di bank
dan lembaga keuangan syariah, masih dimaknai sebagai fikih hitam-putih,
legal-formal. “Kalau hanya untuk mengejar pemahaman itu sih gampang,
relatif ya, diajarin fikih, selesai paham, dan diajarin akad paham,”
kata Yuslam. Seperti dilansir mysharing.Senin (13/7).
Namun, lanjut Yuslam, yang dimaksud dengan syariah bukan hanya
terkait fikih atau akad keuangan syariah saja. Namun, pemahaman pada
nilai syariah. “Pemahaman syariah pada level yang lebih memahami nilai,
memahami maqasid syariah, tujuan syariah yang tatarannya lebih
universal,” jelas Yuslam.
Yuslam menambahkan SDM yang punya pemahaman dari sisi fikih yang
halal haram saja masih kurang apalagi kalau secara kualitatif. “Kualitas
kesyariahan kita yang memahami level lebih tinggi masih sangat kurang,
dan itu justru jadi kegelisahan saya kalau syariah hanya dipahami hitam
putih, halal haram,” papar Yuslam.
Ia menuturkan Indonesia saat ini masih kekurangan akan pemikir
ekonomi syariah dan para ahli maqasid syariah. Padahal, tutur Yuslam,
dengan adanya SDM yang memiliki pemahaman kuat mengenai maqasid syariah,
SDM tersebut tidak hanya akan bisa menciptakan produk baru, tetapi juga
bisa meyakinkan regulator mengenai penciptaan produk telah sesuai
dengan prinsip syariah. (muslimdaily/internasnews)
Sunday, July 12, 2015
Subscribe to:
Post Comments (Atom)






