Thursday, July 30, 2015

KH. Said Aqil Siradj: Jika Banser Jaga Gereja, Pemuda Kristen Juga Harus Jaga Masjid

DI sosial media (sosmed), Banser NU mendapat kritikan tajam dari para Netizen. Kenapa setiap Hari Raya Natal, Banser NU selalu menjaga gereja di beberapa wilayah, sedangkan di Tolikara – Papua, masjid malah tidak dijaga bahkan dibakar oleh massa di saat umat Islam sedang melaksanakan Shalat Idul Fitri.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siradj mengatakan, “Di Tolikara, Banser NU memang lemah, apalagi warga NU di sana minoritas. Adapun Banser NU yang selama ini mengamankan gereja adalah wilayah yang punya basis Islam, sehingga keberadaan gereja menjadi terancam. Karena itulah Banser NU membantu mengaman Hari-hari besar umat Kristen.”

Nah, jika Banser NU saja menjaga keamanan gereja di basis muslim, maka seharusnya pula Pemuda Kristen menjaga masjid di mana umat Islam itu minoritas. Termasuk di Tolikara. “Jika di Jawa, gereja dijaga Banser NU, maka masjid pun juga harus dijaga Pemuda Kristen,” tegas Ketua Umum PBNU.

Said Aqil melihat, insiden yang terjadi di Tolikara adalah akibat Perda yang melanggar UU, dimana perda tersebut memuat larangan membangun masjid. Kemudian, adanya pelaksanaan seminar internasional di saat umat Islam sedang melaksanakan shalat Idul Fitri. Sudah diantisipasi pihak aparat, pihak GIDI menolak.

“Ditambah lagi adanya intervensi asing di Tolikara yang menyebabkan terjadinya insiden. Saat ini sudah ditangkap 2-3 orang asing di Tolikara. Said juga mempertanyakan, adanya bendera Israel di Tolikara. Ia curiga bendera dengan simbol bintang david itu ada kaitannya dengan gereja yang ada di Israel,” ungkap Aqil.

Sudah saatnya umat beragama, baik muslim maupun Kristen untuk membangun kembali komitmen atas nasionalisme. Terkait situasi Tolikara, PBNU telah menyerukan kepada para khatib Jumat untuk tidak berkhutbah dengan muatan yang memprovokasi umat. Cukup Pengurus PBNU saja yang menemui Presiden Jokowi. “Umat Islam Indonesia sudah tenang, jangan lagi diganggu dengan intervensi asing yang mengatasnamakan gereja.”

Tak dipungkiri, radikalisme agama, bukan hanya ada di kalangan umat Islam, tapi juga di kalangan Kristen, dan agama lainnya. Apalagi sekte di dalam Kristen sangat banyak. Said setuju jika deradikalisasi bukan hanya melibatkan kelompok Islam saja, tapi juga Kristen dan agama lainnya.

Said Aqil mendesak Pemerintah menangkap pihak-pihak yang menjadi perusuh dan penyerangan terhadap umat Islam disana yang sedang melaksanakan shalat Ied. “Tersangka harus dihukum sesuai denganUU yang ada. Hukum dengan seberat-beratnya,” tegas Aqil.

Ketika ditanya, bagaimana jika rakyat Papua meminta Referendum kepada Pemerintah Jokowi? Said Aqil menegaskan, Pemerintah harus tegas menolaknya. Ketika Gus Dur menjadi Presiden, beliau akan mengabuli segala permintaan rakyat Aceh, kecuali satu saja, yakni referendum. Begitu juga Papua, Presiden Jokowi harus tegas untuk tidak memenuhi permintaan referendum, sehingga Papua lepas dari Indonesia. Papua harus tetap menjadi bagian dari NKRI, demikian Aqil.
(Desastian/Islampos/internasnews)
Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment