DI sosial media (sosmed), Banser NU mendapat kritikan tajam dari para
Netizen. Kenapa setiap Hari Raya Natal, Banser NU selalu menjaga gereja
di beberapa wilayah, sedangkan di Tolikara – Papua, masjid malah tidak
dijaga bahkan dibakar oleh massa di saat umat Islam sedang melaksanakan
Shalat Idul Fitri.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siradj
mengatakan, “Di Tolikara, Banser NU memang lemah, apalagi warga NU di
sana minoritas. Adapun Banser NU yang selama ini mengamankan gereja
adalah wilayah yang punya basis Islam, sehingga keberadaan gereja
menjadi terancam. Karena itulah Banser NU membantu mengaman Hari-hari
besar umat Kristen.”
Nah, jika Banser NU saja menjaga keamanan gereja di basis muslim,
maka seharusnya pula Pemuda Kristen menjaga masjid di mana umat Islam
itu minoritas. Termasuk di Tolikara. “Jika di Jawa, gereja dijaga Banser
NU, maka masjid pun juga harus dijaga Pemuda Kristen,” tegas Ketua Umum
PBNU.
Said Aqil melihat, insiden yang terjadi di Tolikara adalah akibat
Perda yang melanggar UU, dimana perda tersebut memuat larangan membangun
masjid. Kemudian, adanya pelaksanaan seminar internasional di saat umat
Islam sedang melaksanakan shalat Idul Fitri. Sudah diantisipasi pihak
aparat, pihak GIDI menolak.
“Ditambah lagi adanya intervensi asing di Tolikara yang menyebabkan
terjadinya insiden. Saat ini sudah ditangkap 2-3 orang asing di
Tolikara. Said juga mempertanyakan, adanya bendera Israel di Tolikara.
Ia curiga bendera dengan simbol bintang david itu ada kaitannya dengan
gereja yang ada di Israel,” ungkap Aqil.
Sudah saatnya umat beragama, baik muslim maupun Kristen untuk
membangun kembali komitmen atas nasionalisme. Terkait situasi Tolikara,
PBNU telah menyerukan kepada para khatib Jumat untuk tidak berkhutbah
dengan muatan yang memprovokasi umat. Cukup Pengurus PBNU saja yang
menemui Presiden Jokowi. “Umat Islam Indonesia sudah tenang, jangan lagi
diganggu dengan intervensi asing yang mengatasnamakan gereja.”
Tak dipungkiri, radikalisme agama, bukan hanya ada di kalangan umat
Islam, tapi juga di kalangan Kristen, dan agama lainnya. Apalagi sekte
di dalam Kristen sangat banyak. Said setuju jika deradikalisasi bukan
hanya melibatkan kelompok Islam saja, tapi juga Kristen dan agama
lainnya.
Said Aqil mendesak Pemerintah menangkap pihak-pihak yang menjadi
perusuh dan penyerangan terhadap umat Islam disana yang sedang
melaksanakan shalat Ied. “Tersangka harus dihukum sesuai denganUU yang
ada. Hukum dengan seberat-beratnya,” tegas Aqil.
Ketika ditanya, bagaimana jika rakyat Papua meminta Referendum kepada
Pemerintah Jokowi? Said Aqil menegaskan, Pemerintah harus tegas
menolaknya. Ketika Gus Dur menjadi Presiden, beliau akan mengabuli
segala permintaan rakyat Aceh, kecuali satu saja, yakni referendum.
Begitu juga Papua, Presiden Jokowi harus tegas untuk tidak memenuhi
permintaan referendum, sehingga Papua lepas dari Indonesia. Papua harus
tetap menjadi bagian dari NKRI, demikian Aqil.
(Desastian/Islampos/internasnews)
Thursday, July 30, 2015
Subscribe to:
Post Comments (Atom)






