Menurut Lembaga Hak Asasi Manusia berbasis New York pada hari Senin
(13/07/2015) bahwa pihak berwenang China telah memberlakukan sistem dua
tingkat dalam mengeluarkan paspor. Sehingga sulit bagi warga Tibet dan
anggota etnis minoritas lainnya untuk bepergian, World Bulletin melaporkan.
Sistem dua tingkat ini mengharuskan penduduk dari daerah Tibet atau
Muslim untuk melengkapi dokumen yang lebih banyak daripada warga
lainnya. Sistem ini juga menyebabkan antrian hingga lima tahun atau bisa
terjadi penolakan secara langsung tanpa penjelasan.
Pemerintah China telah mengintensifkan kontrol pada kelompok etnis
minoritas yang telah memprotes kekuasaan China, khawatir akan adanya
ketidakstabilan di wilayah perbatasan di mana mereka tinggal.
Menurut Lembaga Hak Asasi Manusia China bahwa sistem untuk
mendapatkan paspor akan menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam
menghentikan perjalanan dari bentuk-bentuk tertentu. Seperti menghadiri
acara di luar negeri oleh Dalai Lama, pemimpin spiritual Tibet di
pengasingan.
“Pihak berwenang China harus bergerak cepat dalam membongkar sistem
paspor yang diskriminatif,” kata Sophie Richardson, direktur Lembaga Hak
Asasi Manusia China.
Pemerintah China telah berulang kali menolak kritik terhadap
kebijakan di daerah minoritas dan mengatakan bahwa mereka telah
memberikan pertumbuhan ekonomi yang sangat dibutuhkan bagi daerah
tertinggal.
Lembaga Hak Asasi Manusia juga mengatakan bahwa dalam temuannya itu
didasarkan pada studi dokumen resmi, website, sumber berita, media
sosial dan wawancara dengan orang-orang dari Daerah Otonomi Tibet.
Pada tahun 2012, pihak berwenang di Wilayah Otonomi Tibet menarik
semua paspor biasa. Sejak itu, mereka hampir tidak mengeluarkan paspor
pengganti atau paspor baru kecuali untuk wisatawan bisnis resmi dan
sebagian kecil kasus yang tampaknya telah diabaikan.
China memiliki sistem paspor jalur cepat di daerah-daerah yang
sebagian besar dihuni oleh mayoritas Han China dan orang-orang etnis
minoritas di daerah-daerah tersebut.
Laporan itu muncul beberapa hari setelah Thailand mendeportasi hampir
100 orang etnis minoritas Muslim Uighur untuk kembali ke China dan hal
ini telah memicu kecaman internasional. (ry/islampos/internasnews)
Monday, July 13, 2015
Subscribe to:
Post Comments (Atom)






