Duta Besar China untuk Ankara menegaskan bahwa China menghormati
kebebasan beragama, termasuk bagi Muslim. Hal itu dinyatakannya seminggu
setelah aksi protes berlangsung di Turki menyusul adanya laporan bahwa
Beijing memberlakukan larangan puasa selama bulan Ramadhan bagi Muslim
Uighur.
“Di China, orang dapat mempraktekkan agama mereka, dan ibadah
dilindungi. Kami melindungi kebebasan rakyat untuk beragama,” klaim Duta
Besar Yu Hongyang pada Ahad kemarin (26/7/2015) selama kunjungannya ke
Kepresidenan Turki untuk Urusan Agama.
“Kami berusaha memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam isu-isu
agama,” katanya kepada kepala presiden, Mehmet Gormez, sembari
menekankan bahwa hak beragama Muslim dihormati, lapor Anadolu Agency.
Hongyang menekankan bahwa Muslim di wilayah Otonomi Xinjiang Uighur
China barat laut – rumah bagi banyak kelompok etnis minoritas, termasuk
Uighur Turki – melakukan ibadah mereka dalam damai.
Hongyang menyatakan bahwa statistik menunjukkan bahwa rata-rata 7.800
orang telah melakukan Tarawih di seluruh masjid setiap hari bulan
Ramadhan. Sementara itu sekitar 47.000 orang berbuka puasa bersama di
tempat ibadah, sementara lebih dari dua juta lainnya melakukan shalat
Jumat di China.
Dalam pertemuan tersebut, Gormez mengatakan, “Allah mengutus agama perdamaian, kasih sayang, serta keadilan.”
Ia menekankan perlunya memperkaya koeksistensi di negara-negara
dengan populasi dari keyakinan yang berbeda dan budaya yang berbeda.
Kunjungan Hongyang ke Kepresidenan Urusan Agama Turki datang seminggu
setelah Gormez mengunjungi Kedutaan Besar China di Ankara dan
menyampaikan kritikan terkait adanya laporan penindasan terhadap Muslim
di Xinjiang.
(fq/islampos/internasnews)
Sunday, July 26, 2015
Subscribe to:
Post Comments (Atom)






