Salinan Al Quran yang ditulis dengan bahasa Jawi–tulisan Arab yang
digunakan di Brunei dan Malaysia– yang telah dilaminating menjadi temuan
paling baru yang diserahkan warga lokal kepada tim penyidik, Jum’at
(7/8).
“Mungkin ini berasal dari teks Al Quran Malaysia, Indonesia atau
Brunei, yang mayoritas warganya adalah Muslim,” ujar seorang wartawan
Malaysia saat ditanyai wartawan lokal tentang buku plastik ini.
“Mungkin juga berasal dari Mondanao di Filipina. Namun, faktanya,
bisa saja berasal dari negara Muslim manapun,” lanjutnya seperti
dilansir CNN.
Saat ini polisi lokal Pulau Reunion membantu upaya pencarian pesawat
Malaysia Airlines MH370 yang hilang sejak Maret 2014 lalu melalui
patroli darat. Dibantu oleh warga sekitar, puing-puing yang diduga
berasal dari pesawat nahas ini dikumpulkan dan diserahkan kepada tim
penyidik internasional untuk diteliti lebih lanjut.
Keluarga Korban Ingin ke Pulau Reunion
Menjamurnya temuan puing memicu keresahan dari kerabat dan keluarga
korban pesawat berpenumpang 239 orang ini. Mereka mendesak kepada pihak
yang berwenang untuk dibawa ke lokasi puing ditemukan.
Meski menurut juru bicara pemerintah Australia belum ada temuan puing
baru yang diduga berasal dari MH370, keluarga korban tetap merasa ingin
melihat temuan tersebut untuk memastikan sendiri.
“Saya ingin melihat apakah koper anak laki-laki saya ada di sana,”
ujar Lu Zhanzhong, yang anak laki-lakinya menjadi korban pesawat. Ia
melalukan aksi protes di depan Kedutaan Malaysia di Beijing dan menuntut
agar bisa pergi ke Pulau Reunion untuk melihat kebenaran temuan puing
pesawat.
Begitu pula dengan Hu Xiufang yang memiliki tiga kerabat yang menjadi
penumpang pesawat. “Tuntutan kami adalah pergi ke Pulau Reunion dan
melihat dengan mata kepala kami sendiri. Semua keluarga korban ingin
pergi ke sana,” ujarnya.
“Malaysia adalah negara yang bertanggung jawab atas hal ini dan
mereka harus memperoleh dokumen yang relevan,” ujar Lu menambahkan.
Zhang Jianyi, yang anak perempuannya menjadi penumpang pesawat nahas
tersebut, juga mengatakan akan pergi ke Pulau Reunion. “Kami semua akan
pergi ke sana bersama-sama. Itu yang perlu disepakati oleh komunitas
internasional. Dan Malaysia adalah negara yang relevan untuk mengatur
hal tersebut,” ujarnya.
Sejauh ini belum ada tanggapan resmi dari pihak Malaysia. Hal ini membuat keluarga korban kecewa.
“Mereka menolak mengirimkan perwakilan untuk bertemu dengan kami.
Saya tidak tahu apa yang pemerintah Malaysia takutkan, atau apa yang
sebenarnya mereka sedang sembunyikan,” ujar Jiang Hui, yang ibunya juga
berada di dalam pesawat MH370.
Wali Kota Saint Andre mengatakan semua kerabat korban yang akan
datang ke Pulau Reunion akan diterima dengan baik dan diperlakukan
layaknya tamu kota.
“Mungkin ini bisa membantu mereka mengobati pedih karena kehilangan
keluarga,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa pemerintah kota sedang
merancang pembangunan sebuah monumen peringatan bagi korban pesawat.
Perancis mengirim patroli dan personel tambahan ke area pencarian.
Mereka memperluas upaya pencarian puing MH370 sejak Jumat (7/8) kemarin
dengan tambahan sejumlah helikopter, sebuah pesawat terbang yang
berpatroli di atas perairan pulau Reunion, dan beberapa perahu yang
memeriksa perairan.
(rn/Islampos/internasnews)
Saturday, August 8, 2015
Subscribe to:
Post Comments (Atom)






