Pada hari Selasa, sekelompok warga Turki berkumpul di depan kedutaan
China di Den Haag. Mereka memprotes penindasan umat Islam di China
Turkestan Timur, World Bulletin melaporkan, pada Rabu (15/07/2015).
Warga Turki menyimpan karangan bunga hitam di depan kedutaan sambil berteriak “China Pembunuh” dan “Hidup Turkestan Timur”.
Uighur—di mana sekitar 45 persen dari populasi Turkestan Timur—telah
menuduh China melakukan kebijakan represif yang melarang kegiatan
keagamaan, komersial dan budaya mereka.
Pejabat Uni Pendidikan Turkestan Timur Esa Sawut mendesak China untuk menghentikan penindasan terhadap Uighur.
Sawut mengatakan bahwa China telah menerapkan pembatasan terhadap
wilayah Turkestan Timur dan protes akan terus terjadi di seluruh dunia
sampai orang-orang Uighur mendapatkan hak-hak mereka kembali.
“Penindasan terhadap Uighur tidak terbatas di bulan Ramadhan ini,”
kata sawut. Sawut menambahkan bahwa warga Uighur memilih kedutaan
sebagai tempat berbuka puasa untuk menunjukan bahwa mereka tidak pernah
lupa pada Turkestan Timur.
Protes tersebut telah terjadi di seluruh dunia sejak Kementerian Luar
Negeri Turki menyatakan keprihatinan yang mendalam kepada China
terkait laporan media bahwa Beijing telah menanamkan larangan puasa pada
segmen penduduk Muslim Uighur. (ry/islampos/internasnews)
Wednesday, July 15, 2015
Subscribe to:
Post Comments (Atom)






