Brunei Darussalam terus menjadi pusat perhatian. Sebabnya apalagi
kalau bukan negeri Melayu ini yang mendeklarasikan syariat Islam sebagai
hukum resmi. Deklarasi Brunei akan syariat Islam, di tengah himpitan
arus besar ekonomi dunia saat ini adalah sebuah keberanian yang luar
biasa. Namun, seperti kita tahu pula, negara ini memang kaya dan
sejahtera.
Brunei memang hanya memiliki wilayah negara yang kecil. Tetapi,
Brunei memiliki ekonomi yang sangat sehat, tumbuh pada tingkat yang
lambat dan mantap. Ini tetap stabil dengan tingkat inflasi rata-rata
1,5% selama dua puluh tahun terakhir.
Orang-orang dari Brunei Darussalam juga menikmati kualitas hidup yang
tinggi dengan perkiraan US $ 31,000 pendapatan per kapita, termasuk
tertinggi kedua di kawasan ASEAN.
Ekonomi Brunei sendiri merupakan negara petrodollar yang telah
didominasi oleh industri minyak dan gas selama 80 tahun terakhir. Sumber
daya hidro karbon account selama lebih dari 90% dari ekspor dan lebih
dari 50% dari produk domestik bruto.
Hari ini, Brunei adalah produsen minyak terbesar keempat di Asia
Tenggara dan eksportir terbesar kesembilan gas alam cair di dunia.
Kelebihan Sistem Petrodollar Brunei
Namun, ada peningkatan kesadaran di negara ini yang menghabiskan
sumber daya alam dan kebutuhan selanjutnya untuk diversifikasi ekonomi
jauh dari ketergantungan pada minyak dan gas.
Rencana untuk masa depan termasuk upgrade tenaga kerja, mengurangi
pengangguran, memperkuat sektor perbankan dan wisatawan, dan terus
memperluas basis ekonomi di luar minyak dan gas.
Brunei mengimpor sekitar 80% dari kebutuhan pangan, dengan pemerintah
menyubsidi kebutuhan pokok tertentu seperti beras, gula, dan susu.
Pemerintah juga memberikan subsidi perumahan, listrik, air, dan minyak,
serta memberikan pelayanan medis yang komprehensif dan pendidikan gratis
sampai tingkat universitas.
Brunei juga mengoperasikan sistem mata uang papan dengan dollar
Brunei (B $) yang dipatok terhadap dolar Singapura. Sehingga, kedua mata
uang secara hukum dipertukarkan di Brunei dan Singapura.
Kekurangannya
Karena negara berkonsentrasi pada pengembangan untuk membangun
ekonomi pengetahuan secara intensif, tampaknya memungkinkan untuk
mengabaikan kelanjutan dan keterampilan outflow dari negara tersebut.
Setelah kemerdekaan, salah satu prioritas pemerintah yang paling
penting adalah mendorong pengembangan Melayu Brunei sebagai pemimpin
industri dan perdagangan.
Selain itu, sebagian besar pekerja asing dan penduduk Cina ditolak
kewarganegaraannya. Dengan segala kelebihan ekonominya tersebut,
didukung dengan para pemimpin yang dekat dengan agama, tak heran jika
Brunei memang sudah seharusnya tampil di muka untuk mendeklrasikan diri
sebagai negara penganut Syariah di dunia. (islampos/bdi)
Saturday, July 11, 2015
Subscribe to:
Post Comments (Atom)






