Wakil Ketua PWNU Jawa Timur HM Sholeh Hayat menegaskan bahwa ada
peluang “hilal” (rembulan usia muda sebagai penanda pergantian kalender)
bisa dirukyat (dilihat secara kasat mata).
“Saat ini, lebih dari 61 titik lokasi rukyat se-Indonesia, jadi bila
tidak terhalang mendung ada potensi rukyat akan berhasil, sehingga 1
Syawal akan berpotensi sama pada Jumat 17 Juli,” katanya kepada Antara
di Surabaya, Selasa (14/7).
Menurut dia, Kepala LAPAN Thomas Jamaludin sudah menyatakan
irtifak/ketinggian hilal yang kurang dari 3 derajat itu secara astronomi
akan sulit dilihat hilal-nya.
“Tapi, analisis ‘garapan’ para ulama hisab di Badan Hisab Rukyat
Jatim justru sebaliknya dengan merujuk 20 sistem atau kitab terkait
irtifak hilal di akhir Ramadhan 1436 H,” katanya.
Ke-20 sistem itu terbagi tiga cara hisab yakni delapan sistem atau
kitab yang menghasilkan hitungan ketinggian hilal antara 2,05 sampai
2,58 derajat.
“Delapan sistem atau kitab itu adalah Durusul Falaqiyah, Ephimeris
Hisab Rukyat, Bulugh al Wathor, Asy Syahru, Tsamarotul Fighr, Ittifa’
Dzatil Bain, dan Ad Darul Anik,” katanya. Seperti dilansir beritasatu.
Selanjutnya, 10 kitab hisab rujukan yang menghasilkan hitungan ketinggian hilal 03,2 derajat sampai 03,29 derajat.
Ke-10 kitab rujukan dimaksud adalah Khulashoh al Wafiyah, New Comb,
Matlaus Said, Durrul Mastlup, Hakiki, Qowaidul Falaqiyah, Tashilul
Misatsal, dan Nurul Anwar.
“Dua kitab lainnya yakni Salaf Sullamun Nayyiren dan Fathurrouf fil
Manannan, bahkan menghitung ketinggian hilal pada 29 Ramadhan 1436 H
mencapai 04,45 sampai 04,59 derajat,” katanya.
Artinya, ke-20 sistem tersebut menghitung ijtimak akhir Ramadhan
dengan kesepakatan yang sama yakni terjadi hari Kamis 16 Juli sekitar
jam 07.39 WIB sampai 09.00 WIB.
“Jadi, kalau hilal terlihat pada 16 Juli, maka usia Ramadhan hanya 29
hari dan 1 Syawal pun jatuh pada hari Jumat 17 Juli,” katanya.
Apalagi, saat ini, ada lebih dari 61 titik lokasi rukyat
se-Indonesia, sehingga bila ada yang terhalang mendung, maka ada potensi
lokasi rukyat yang lain tidak mendung atau berhasil merukyat.
“Ada catatan yang menarik dengan peristiwa ijtimak dan ketinggian
hilal yang sama yakni penentuan hilal awal Ramadhan 4 Agustus 1978 dan
24 Juli 1979 yang terjadi pada jam yang hampir sama dengan sekarang
yakni jam 8 pagi dan irtifak hilal 2-3 derajat, ternyata Pusat Metrologi
Jakarta dan Observasi Pelabuhan Ratu Sukabumi justru berhasil
merukyat,” katanya. (muslimdaily/internasnews)
Tuesday, July 14, 2015
Subscribe to:
Post Comments (Atom)






