Bandung masih senyap. Lepas Subuh, jelang matahari menyemburat
sinarnya, gema takbir tak berhenti mengalir dari corong-corong pengeras
suara. Allahu Akbar Allahu Akbar Laa Ilaaha illallahu Allahu Akbar.
Allahu Akbar walillaahilhamd …Pun demikian di halaman Masjid
perkantoran dan pusat perbelanjaan termegah di Parijs van Java, Masjid
Trans Studio Bandung.
Ribuan Jamaah tampak memadati ruang-ruang yang sengaja disediakan
untuk menunaikan shalat Idul Fitri berjamaah, sekaligus menyimak khutbah
Id yang disampaikan Ulama kharismatik, Ketua Umum MUI Kota Bandung,
Prof. Dr. KH. Miftah Faridl, Jumat (17/07).
Dalam khutbah Idnya yang bertajuk “Jujur adalah Kunci Kesuksesan dan
Kebahagiaan “, Kiyai Miftah menyampaikan bahwa ibadah yang baik itu
selain berhasil mendapat Ridla atau pahala dari Allah Swt, juga harus
memberikan dampak bagi peningkatan kesalihan pelakunya.
“Kesalihan secara spiritual dalam bentuk kesungguhan dalam
mengamalkan ibadah -ibadah mahdlah maupun kesalihan sosial dalam bentuk
perilaku yang baik, manfaat dan maslahat bagi sesama manusia. Bahkan
baik dan bermanfaat untuk semua makhluk Allah, termasuk dengan flora
dan fauna, ” ungkap Kyai Miftah, yang juga aktif sebagai Ketua Dewan
Pembina Sinergi Foundation ini.
Mengutip surat Al Baqarah ayat 183: “Hai orang-orang yang beriman,
diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang
sebelum kalian agar kamu bertakwa,” Kyai Miftah mengajak kaum muslimin
untuk melakukan muhasabah, membaca dan menyadari kelemahan diri.
“Marilah dengan jujur kita mengakui atas segala dosa dan kelemahan
serta kekurangan kita. Bukan untuk disesali, tapi untuk kita perbaiki, ”
ungkapnya.Masih menurut Kyai Miftah, bahwa salah satu masalah bangsa
yang harus disikapi secara serius dewasa ini adalah menyangkut akhlak
bangsa, terkhusus yang menyangkut kesalehan sosial.”Bangsa ini sedang
mengalami krisis kesalehan sosial. Orang yang tidak jujur sangat banyak,
bahkan dimana-mana. Kejujuran sering menjadi barang langka. Padahal
kejujuran adalah esensi penting dari ajaran Islam, “ujar Ketua Yayasan
Pendidikan Unisba ini menukil pesan-pesan Rasulullah Saw tentang
kejujuran.
Misalnya dalam Hadist Riwayat Ahmad, Shahabat Anas berkata: Hampir
tidak pernah Rasulullah berkhutbah, menyampaikan pesan moral kepada
kami, kecuali di dalmnya ada pesan: Tidak ada Iman bagi orang yang tidak
jujur . Dan tidak ada agama bagi orang yang tidak memenuhi janji.
Dalam Hadits lain, seperti disampaikan Kiyai Miftah, Ketika seseorang
bertanya kepada Nabi tentang apa yang harus dilakukan untuk menjadi
seorang muslim, beliau bersabda: Nyatakan olehmu bahwa aku beriman
kepada Allah. Kemudian, setelah itu kamu jangan bohong.
“Pesan-pesan moral Rasulullah Saw tentang kejujuran berulangkali
disampaikan oleh beliau keapda umatnya, sehingga terkesan bahwa iman dan
kejujuran itu melekat tidak bias dipisahkan. Kalu seseorang itu
benar-benar beriman, pasti ia jujur. Dan kalau ia tidak jujur berarti ia
tidak beriman,” ungkapnya, lagi.
Menurut Kiyai Miftah, hidup jujur di tengah-tengah masyarakat yang
biasa tidak jujur itu berat. Tapi, ia meyakinkan,”Untuk membangun budaya
jujur kita perlu siap dan berani mengambil risiko rugi asal dengan
jujur. Daripada untung dengan tidak jujur. Bahkan kita harus ridla kalah
tapi jujur, daripada menang tapi dengan tidak jujur. Kalau kita
senantiasa jujur dalam setiap langkah, insya Allah kita akan meraih
keberkahan dalam segala aspek kehidupan kita,” pungkasnya. (emha/alhikmah/muslimdaily)
Friday, July 17, 2015
Subscribe to:
Post Comments (Atom)






