Dengan mengambil rute Senayan-Bunderan HI-Senayan, parade ini ditujukan untuk mensyukuri nikmat kemerdekaan RI ke-70.
Sepanjang perjalanan, massa dari berbagai kalangan ini melantunkan kalimat-kalimat tauhid sebagai bentuk pengesaan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Sontak aksi ini menjadi pandangan berbeda di arena car free day yang biasanya menjadi ajang jogging masyarakat Jakarta.
Apalagi pawai ini turut diikuti oleh sejumlah ulama nasional yang biasa tampil di layar kaca seperti Ustadz Bachtiar Nasir, Ustadz Arifin Ilham, Habib Riziq Shihab dan lain sebagainya.
Suasana parade semakin semarak dengan penampilan kain bertuliskan Laillahailallah, MuhammadaRasulullah sepanjang 3 KM dari Bunderan HI menuju Gelora Bung Karno, Senayan.
Untuk membawa kain panjang ini, ribuan massa beramai-ramai membentangkannya selama jalannya parade menuju Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Baik orang tua, pemuda, remaja, termasuk anak-anak terlihat antusias dalam membopong kain yang sebelumnya digunakan dalam Parade Tauhid Solo Raya yang dihadiri oleh puluhan ribu massa pada Mei 2015.
Dalam pembukaan Parade Tauhid, Sekjen Majelis Intelektual Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Bachtiar Natsir menyatakan PT adalah salah satu upaya memperbaiki kembali cara berfikir Islam yang liberal demi tegaknya NKRI.
“(Liberalisme) Inilah bentuk kemusyrikan saat ini yang luar biasa, disabilitas akal. Kecelakaan terbesar dalam berfikir,” tegasnya.
Senada dengan itu, KH. Kholil Ridwan menambahkan parade tauhid bertujuan menunjukkan kekuatan dan persatuan umat Islam.
“Kedepan, umat muslim Jakarta wajib berjuang mewuiudkan Jakarta menjadi kota Islam,” ungkap ketua MUI pusat ini.
(rn/Islampos/internasnews)








