Monday, August 17, 2015

Habib Rizieq: Remaja Tak Tahu PKI Sejak Film G30S PKI Berhenti Diputar

Jika Presiden Jokowi meminta maaf kepada PKI, maka sama saja menyalahkan TNI dan ulama. Termasuk menyalahkan NU dan Muhammadiyah. Jokowi jangan coba-coba memberikan kesempatan kepada orang-orang PKI dan simpatisannya dalam kekuasaan. Jika sampai PKI berkuasa, umat Islam wajib menyiapkan diri untuk memenuhi panggilan jihad, mengangkat senjata melawan PKI.

Demikian dikatakan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab dalam orasinya pada Parade Tauhid, Ahad (16/8) di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta.

Dikatakan Habib Rizieq, gerakan PKI  saat ini makin merajelela. Belum lama ini, di Univesitas Jember,  ada mahasiswa yang menggambar tembok kampus dengan gambar palu arit.

“Inilah momen kebersamaan, persatuan dan persaudaraan kita untuk merapatkan barisan, untuk melawan PKI. Mari satukan hati dan langkah kita untuk itu. Kita tahu, PKI jelas-jelas menolak hukum agama di Indonesia. PKI dan liberalisme sama-sama menolak syariat Islam. Jika sampai Jokowi meminta maaf pada PKI, maka Jokowi sama saja membuka luka lama umat Islam.”

Habib sangat menyayangkan, jika anak muda yang lahir di era 90-an, banyak yang tidak tahu PKI. Jika sebelumnya (1966-1988), sejarah kebiadaban PKI masih masuk kurikulum sejarah Indonesia, tapi setelah reformasi, sejarah kekejaman PKI malah dihapus kurikulum. Ini membuktikan ada upaya untuk menghilangkan jejak kekejaman PKI.

Masih segar dalam ingatan, pada tahun 1985-1998 Stasiun TVRI selalu memutar film kekejaman G30S PKI setiap tahunnya. Dari pemutaran film itu, anak-anak dan para generasi muda, dari Sabang-Merauke, telah mengetahui kebiadaban PKI. Sejak tahun 1998, film G30S PKI tidak lagi diputar.

Habib Rizieq mendesak pemerintah, agar pengkhiatan G30PKI harus dimasukkan kembali dalam kurikulum sejarah Inodnesia. Begitu juga agar film kebiadaban G30S PKI diputar lagi, sehingga anak-anak kita tidak kehilangan informasi tentang kebiadaban PKI.

Tegakkan Hukum Di Tolikara

Selain itu, Habib juga menyinggung soal Peristiwa Tolikara. Habib meminta agar hukum ditegakkan di Tolikara. Seret pelakunya dengan hukuman yang setimpal. Jika Presiden Jokowi tidak menangkap pelaku penyerangan umat Islam di Tolikara saat melakukan shalat Idul Fitri, maka jelas Jokowi telah melanggar Undang-undang.

“Jika penyerangan masih saja terjadi, dan membiarkan Peraturan yang diskriminasi terhadap umat Islam, maka tak usah tunggu lagi pemerintah untuk bertindak. Siapkan diri para mujahid untuk berangkat jihad membela kaum muslimin yang terzalimi. Jangan sampai ada darah muslim yang menetes,” kata Habib Rizieq.

Habib mengatakan, jika orang kafir bisa mengancam, kita umat Islam juga bisa mengancam. Jika umat Islam merasa sakit, maka musuh Islam bisa lebih sakit. Jika umat Islam lelah, maka musuh Islam pun lelah . Jika umat Islam bisa takut, maka musuh Islam pun bisa lebih takut. “Sudah saatnya umat Islam bersatu.”

Masih dalam Parade Tauhid, pimpinan Majelis Zikir Az-Zikra Ustadz Arifin Ilham memimpin doa dan zikir dengan mendoakan kaum muslimin di Palestine, Afghanistan, Irak, Suriah, Yaman, Mesir, Afrika Tengah, Cina, Myanmar, Moro Philipina, Patani – Thailand Selatan, hingga Kasmir India.

Bersamaan dengan itu, Ustadz Fadzlan Garamatan, dai asal Papua, mengatakan, kedaulatan di negeri tengah dicabik-cabik oleh orang yang tak bertanggungjawab. Karenanya, umat Islam harus satukan perjuangan. Di hadapan puluhan ribu umat Islam, Ustadz Fadzlan melepas jamaah kaum muslimin Parade Tauhid untuk bergerak dengan berjalan kaki dari Senayan, Bunderan HI, dan kembali lagi ke Senayan.

(Desastian/Islampos/internasnews)
Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment